Jumat, 29 Januari 2010

Melestarikan Budaya Manggarai Melalui Tari Caci

Semarang - Puluhan orang dari Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar atraksi budaya bertajuk Tari Caci di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Jumat (15/1) kemarin.

Dalam budaya Manggarai, tari caci membawa simbol pertobatan manusia dalam hidup. Nama caci sendiri berasal dari dua kata, yakni ’ca’ yang berarti satu, dan ’ci’ yang berarti uji. Makna lengkapnya, ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Pementasan tarian caci pun ternyata sangat unik. Tarian terlebih dahulu dibuka dengan tarian danding atau lazim disebut pula sebagai Tandak Manggarai sebelum dimulai perang satu lawan satu. Tarian ini dimainkan penari laki-laki dan perempuan untuk memberikan semangat bagi yang hendak bertarung. Tidak sedikit penari yang seusai pertarungan mendapatkan luka-luka sobek dikarenakan sabetan cemeti yang mendarat di tubuh.

Sesepuh Suku Manggarai, Isidorus Ikut SH, menuturkan, bahwa Tari Caci merupakan tarian yang disajikan untuk memeriahkan hajatan-hajatan besar dalam adat Manggarai. Bukan hanya dalam hajatan adat saja. ”Tarian ini sudah jarang dibawakan. Apa yang kami lakukan saat ini adalah untuk membangkitkan kembali semangat dalam melestarikannya. Untuk itu, kami tidak hanya menggelar tarian di daerah Manggarai saja, tetapi juga akan kami bawakan di luar daerah seperti yang kami lakukan saat ini” jelas Isidorus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar